Lihatlah langit yg biru..
Ia tak pernah membuatku menanggis tersedu..
Birunya seakan makin membiru...
Dan seakan berseru untuk bersatu..
Terbelenggu didalam kalbu..
Biar begitu..
Langit tak pernah membuat luka yg membiru..
Sudikah kau melihat luka yg membiru..
Didalam kalbu..
Bukan soal kamu dan aku..
Tapi soal kata layaknya sebuah peluru..
Untukmu kusampaikan rindu..
Bahwa hati ini bukan untuk diburu..
Dan kata yg tertancap didalam kalbu..
Layaknya sebuah peluru..
Bagiku sudah cukup membuatku senyap seperti abu..
Aku berbeda dengan mu...
Tak seperti baja yg selalu kuat menahan peluru....
Mungkin sudah ada badai yg menerjang..
Sehingga kata tak lagi datang...
Mungkin juga terlalu besar ombak yg datang..
Sehingga kabar hanya datang saat ilalang menghilang..
Atau mungkin jarak yg menjulang...
Sehingga impian hanya berucap selamat pulang...
Ia tak pernah membuatku menanggis tersedu..
Birunya seakan makin membiru...
Dan seakan berseru untuk bersatu..
Terbelenggu didalam kalbu..
Biar begitu..
Langit tak pernah membuat luka yg membiru..
Sudikah kau melihat luka yg membiru..
Didalam kalbu..
Bukan soal kamu dan aku..
Tapi soal kata layaknya sebuah peluru..
Untukmu kusampaikan rindu..
Bahwa hati ini bukan untuk diburu..
Dan kata yg tertancap didalam kalbu..
Layaknya sebuah peluru..
Bagiku sudah cukup membuatku senyap seperti abu..
Aku berbeda dengan mu...
Tak seperti baja yg selalu kuat menahan peluru....
Mungkin sudah ada badai yg menerjang..
Sehingga kata tak lagi datang...
Mungkin juga terlalu besar ombak yg datang..
Sehingga kabar hanya datang saat ilalang menghilang..
Atau mungkin jarak yg menjulang...
Sehingga impian hanya berucap selamat pulang...
Disini aku terdiam putus asa
ReplyDeleteMengenang masa lalu terlampau rindu
Bak gunung yang menjadi pasak bumi
Kenangan tentangmu lekat direlungku
Coba rasakan
Rinduku bukan senda gurau
...